Bandrong09

Just another WordPress.com weblog

Ramadan, Museum di Malaysia Tutup Lebih Cepat

Museum-Museum di Malaysia yang berada di bawah departemen pemerintah diinstruksikan menutup jadwal kunjungan 30 menit lebih awal dari biasanya selama bulan suci Ramadan.

Seperti dilansir lama Bernama, hal itu berlaku untuk seluruh museum di negeri jiran tersebut, tak terkecuali Muzium Negara. Termasuk Sungai Lembing Museum di Pahang, National Automobile Museum (Sepang), Lukut Museum (Negri Sembilan), dan Kota Kuala Kedah Museum di Kedah.

Dalam pernyataan yang dirilis departemen yang mengurus perihal museum, museum-museum tersebut akan terbuka untuk pengunjung 9:00-17:30 selama bulan puasa. Bahkan, museum akan ditutup pada hari pertama lebaran atau Idul Fitri.

Untuk informasi lebih lanjut, departemen tersebut juga menyarankan masyarakat dapat menjelajahi website departemen di http://www.jmm.gov.my.

Filed under: Uncategorized

Ramadan Waktu Baik Raih Untung di Bursa

Menurut sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari University of New Hampshire (UNH), selama bulan suci Ramadan, pendapatan saham hampir sembilan kali lebih tinggi di negara-negara mayoritas muslim daripada pada bulan lain di tahun ini.

Menurut laman oneindia.in, hal itu menunjukkan bahwa Ramadan memiliki dampak positif pada psikologi investor dan meningkatkan optimisme investor dalam mengambil keputusan berinvestasi.

Ahmad Etebari, pengamat keuangan dan ketua Departemen UNH jurusan Akuntansi dan Keuangan mengatakan bahwa selama bulan Ramadan ini, keuntungan yang diterima investor sudah mencapai 38,09 persen, dibandingkan keuntungan sepanjang sisa tahun ini yang diprediksi sebesar 4,32 persen.

Hal itu merupakan hasil survei terhadap lebih dari 1,5 miliar Muslim di seluruh Dunia dan diikuti 14 negara berpenduduk muslim dominan selama bertahun-tahun (1989-2007): Oman, Turki, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Yordania, Mesir, Maroko, Tunisia , Malaysia, Bahrain, Indonesia, dan Arab Saudi.

Etebari dan rekan penelitinya kembali melakukan survei terhadap 14 negara-negara Muslim tersebut mengenai keuntungan yang diperoleh dari transaksi saham selama bulan Ramadan.

“Kami percaya bahwa efek Ramadan terbaik dapat dijelaskan oleh perubahan dalam psikologi investor. Ramadan adalah bulan religius yang mempengaruhi hampir setiap aspek kehidupan umat Islam. Selain puasa dan doa, Ramadan mempromosikan meningkatkan kesadaran sosial dan hubungan yang lebih dekat dengan Allah dan dengan sesama muslim lain di seluruh dunia,” kata peneliti itu.

“Berdasarkan pengalaman, Ramadan menimbulkan rasa solidaritas di kalangan umat Islam, meningkatkan kepuasan mereka akan kehidupan dan mendorong meningkatnya keyakinan. Optimisme ini mempengaruhi sentimen investor dalam mengambil keputusan meningkatkan investasinya. Itu yang kami temukan,” tambah Etebari.

Para peneliti tersebut juga melakukan penelitian mengenai alasan lain yang dapat mempengaruhi para penduduk Muslim itu bertransaksi saham selama Ramadan. Mereka memeriksa apakah efek itu akibat adanya likuiditas pasar, jangka waktu periode puasa harian, atau kalender tetap anomali dan lainnya. Namun, tidak ada yang tampaknya memberikan jawaban.

“Para investor sepertinya mencari keuntungan cepat. Di dunia Muslim, mereka nampaknya harus mencoba mencari keuntungan di bulan puasa, yaitu membeli saham sebelum awal Ramadan dan menjual pada akhir bulan suci itu atau lebih baik segera setelah Idul Fitri. Tentu saja, ada biaya dalam transaksi yang perlu diperhitungkan, namun biaya tersebut tidak terasa dibandingkan dengan keuntungan yang akan diperoleh,” kata peneliti itu.

Alternatif lain, Etebari menambahkan, investor bisa juga memulai strategi yang lebih pasif dengan cara menunda penjualan sampai akhir bulan suci atau mempercepat waktu pembelian di awal.

Filed under: Uncategorized

Puasa Dibagi Menjadi Tiga Tingkatan

Puasa di bulan Ramadan hukumnya wajib bagi umat Islam. Namun, seperti yang sering dikutip para ustadz dan ulama, puasa secara garis besar ternyata dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu puasa orang-orang awam, puasa orang-orang khusus, dan puasa yang paling khusus dari yang khusus.

Puasa orang-orang awam adalah meninggalkan makan, minum dan bercampur dengan istri, serta segala yang membatalkan puasa secara lahiriah.

Puasa seperti ini belum dapat meningkatkan kemampuan batin dan mentalnya ke tingkat yang lebih tinggi, seperti menahan hawa nafsu, menjaga lisan, tangan, dan anggota-anggota badannya dari hal-hal yang tercela.

Puasa orang-orang khusus adalah puasa orang awam dengan beberapa peningkatan di antaranya mampu menahan hawa nafsu, pendengaran, penglihatan, lisan, dan seluruh anggota badannya dari perbuatan yang tidak terpuji.

Sedangkan puasa kelompok paling khusus misalnya hatinya ikut berpuasa dari niat dan kecenderungan yang rendah, melepaskan diri dari memikirkan kemewahan dunawi serta memalingkan diri secara total dari segala sesuatu yang selain Allah S.W.T.

Puasa dalam tingkatan seperti ini, telah dianggap rusak apabila sudah dinodai oleh angan-angan atau berfikir pada sesuatu selain dari Allah S.W.T. dan hari akhir. Atau dengan memikirkan dunia, kecuali yang dimaksudkan untuk kepentingan agama yang mengaitkan dengan bekal akhirat serta menafikan kehidupan duniawi.

Nah, masuk ke tingkatan mana kah puasa kita? Selamat menunaikan ibadah puasa.

Filed under: Uncategorized

Kisah Ramadhan di Kairo

Kisah Ramadhan di Kairo

Ramadhan adalah bulan yang khusus bagi umat Islam. Berbagai masyarakat di belahan dunia pun menyambutnya dengan berbagai cara. Seperti halnya di negara Timur Tengah, Mesir.

Di negara tersebut, seperti dikutip dari sharm-club.com, dalam merayakan Ramadhan memiliki cara yang unik dan telah menjadi tradisi yang indentik dengan datangnya bulan puasa. Sebab, di setiap rumah dan gang-gang akan ramai dipasangi lampu-lampu hias atau lentera khusus (disebut fanoos).

Untuk anak-anak maupun orang dewasa, pemasangan lampu atau lentera itu adalah bagian dari sukacita dan keajaiban Ramadhan, seperti bagaimana pohon Natal melambangkan Natal di bagian lain dunia.

Adapun legenda bagaimana fanoos muncul di Mesir yaitu pada hari kelima Ramadhan pada tahun 358 Hijriyah, saat Khalifah Fatimiyah Moezz El-Din EI-Allah memasuki Kairo bersama pasukannya untuk membangun kota pertama kalinya.

Saat ia datang setelah senja, para penghuni di kota tersebut ternyata secara masal menyambut dan merayakannya dengan membawa lentera yang bersinar-sinar. Sejak hari itu, fanoos telah menjadi salah satu simbol besar Ramadhan untuk Mesir.

Yang tak kalah menariknya lagi di Kairo, ketika masuknya waktu berbuka puasa (iftar) akan disambut dengan suara meriam atau disebut Cannon Ramadhan. Hal itu pun sudah menjadi tradisi di kota tersebut, yakni tradisi sebagai pengganti pengumuman atau pemberitahuan kapan tepatnya waktu berbuka yang biasanya diumumkan dari masjid oleh muadzin.

Suara awal Iftar itu biasanya keluar dari sebuah meriam khusus yang terletak di Benteng Salah el-Din, yaitu tepat pada saat matahari terbenam, yang berarti bahwa orang dapat berbuka puasa.

Menurut legenda, asal muasal bahwa meriam itu dianugerahi sebagai meriam Ramadhan tepatnya pada 859 AH (Hijriyah), yaitu ketika penguasa Mesir sedang sibuk bermain-main dengan meriam barunya di halaman yang terbuka di atas menghadap Benteng Kairo tapi meriam itu meledak tanpa sengaja dan ledakan keras itu bergema ke mana-mana.

Namun, orang-orang yang mendengarnya sangat senang dengan apa yang dilakukan pemimpinnya itu yang dianggap memiliki ide inovatif untuk mengumumkan istirahat cepat setiap hari. Dan putrinya, Haja Fatma, mendesaknya untuk membuat tradisi sinyal tersebut, dan sejak itu meriam telah sinonim dijuluki “Haja Fatma” yang membuat meriam itu menjadi penyiar saat waktu berbuka tiba.

Kisah lain, yaitu waktu pemerintahan Mohamed Ali. Diceritakan bahwa ia menguji sebuah meriam yang dibelinya dari Jerman di bulan Ramadan pada saat yang sama sebagai Iftar. Sejak itu, telah menjadi tradisi api madfaa sehari-hari selama bulan Ramadhan untuk menandai Iftar dan Sahur.

Meriam Ramadhan yang asli tetap di Benteng sebagai simbol masa lalu yang indah. Sejak awal 1990-an, meriam biasanya diangkut ke Al-Darassa Park pada malam sebelum Ramadhan seiring penentuan untuk melihat penampakan bulan sabit.

Namun, saat ini tradisi meriam tersebut sudah tidak diterapkan lagi karena dianggap sebagai ancaman bagi infrastruktur Benteng dan rumah-rumah di sekitarnya.

Filed under: Uncategorized

Kebiasaan Masyarakat Betawi Jelang Puasa

Ini Kebiasaan Masyarakat Betawi Jelang Puasa

Bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Biasanya, sehari menjelang Ramadhan atau puasa, orang Betawi punya kebiasaan yang sepertinya saat ini telah terlupakan, yaitu Mandi Merang.

Tempo dulu, kebiasaan ini sering dilakukan saat sore hari menjelang puasa esok, terutama para ibu dan para gadis-gadis. Mereka berkeramas menggunakan merang. Yakni, kulit gabah yang dibakar kemudian dicampur dengan buah rek-rek. Buah berbusa yang umumnya digunakan untuk menyepuh perhiasan, emas dan perak, agar mengkilat kembali.

Di samping merang, untuk keperluan keramas ada kalanya digunakan lidah buaya. Sedangkan untuk memperindah dan mencegah kerontokan rambut digunakan minyak kemiri. Namun, hal itu semua sudah tergantikan dengan shampo yang sering diiklankan di televisi.

Sebetulnya, mandi dan keramas tersebut mempunyai motif tersendiri yakni pembersihan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Ada lagi tradisi yang hingga kini masih terus dilakukan, yakni tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang puasa. Namun biasanya, hal itu tempo dulu sering dilakukan khusus kaum pria. Sebab, Wanita dilarang karena khawatir ada di antara mereka yang mendapat haid.

Makna Ziarah kubur dilakukan sebagai penghormatan dan mendoakan arawah orang tua dan keramat. Banyak yang membaca surat Yasin atau membaca tahlil, sambil membersihkan makam kerabat.

Yang kagak boleh dilupakan menjelang Ramadhan juga adalah mengantar penganan atau bingkisan (disebut juga Nyorog) kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti bapak/ibu, mertua (calon mertua), paman, kakek/nenek atau kerabat dekat. Bukan saja anak dan cucu, calon mantu juga ngantar penganan pada calon mertoku.

Penganan atawa bingkisan itu umumnya roti, sirup, kopi, susu, gula, dan korma. Calon mantu yang datang membawa barang antaran ke rumah calon mertua, mendapat nilai lebih. Ia dapat pujian sebagai calon menantu yang baik dan bikin senang hati mertua.

Sebaliknya, calon mantu yang tidak bawa anteran apalagi tidak nongol jelang Ramadhan, urusannya bisa runyam. Calon mantu semacam ini tidak ada ia punya rasa hormat pada mertua. Bisa-bisa lamarannya bakal ditolak. Karena itu, sekalipun kantong kempes atau lagi bokek, ngantar pada mertua kudu dilakukan. (dari berbagai sumber)

Filed under: Uncategorized

Belajar Bikin Blog

Hari ini, Kamis (19/2/2009) ane belajar buat blog nih… dari temen yang paham bener ma IT. Pokoknye… ane mo coba-coba terus deh belajar,  biar nga ngatek. Makasih ya… Om Pir atas kebaikannye and jangan bosen-bosen ya.

Filed under: Uncategorized

Pendatang Baru!

Ane datang sebagai pendatang baru di dunia blog… tolong dibantu kalo ada saran and masukkan. Thx!

Filed under: Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.